BIODIESEL DI ERA MILENIAL

 Mokh Kandari

Magister Energi Undip
 


Sustainable energi saat ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mencapai ketahanan energi dan ekonomi pada generasi milenial. Kesadaran akan terbatasnya energi fosil yang terus dieksploitasi sementara demand energi semakin meningkat akan berdampak pada kondisi makro Indonesia dan dapat menyebabkan multiplier efek. Dari cnbc Indonesia tercatat rata-rata harian impor BBM Pertamina sampai pada Agustus 2018 sebesar 393 ribu barrels oil per day (BOPD). Harga ICP (minyak mentah) rata-rata per bulan 69.36 USD/barel, maka dibutuhkan anggaran sekitar 882.835.200 USD/bulan. Oleh karena itu anggaran devisa untuk mengimport BBM menjadi beban pemerintah ditengah melemahnya nilai rupiah terhadap dollar.

Tindakan pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Perpres No. 61 Tahun 2015 tentang Perhimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit dan Permen ESDM No. 41 Tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan juga Permen ESDM No. 12 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Permen ESDM No. 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain merupakan upaya agar penggunaan biofuel memilik payung hukum dan dapat mempercepat penggunaan bioenergy sebagai biofuel untuk bahan bakar diesel.

Mengenal Biofuel – Biodiesel B20
Biodiesel B20 adalah bahan bakar diesel campuran minyak nabati 20% dan minyak bumi (petroleum diesel) 80%. Secara teknis Biodiesel B20 merupakan bahan bakar diesel yang ditambahkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 20%.
FAME atau metil ester ini diproduksi melalui reaksi transesterifikasi antara trigliserida (penyusun utama minyak nabati) dan methanol dengan bantuan katalis basa. Reaksi tersebut menghasilkan metil ester dan gliserol. Metil ester inilah yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan biodiesel karena sifat fisik atau molekulnya mirip dengan petroleum diesel.
Salah satu sumber minyak nabati atau metil ester ini adalah minyak kelapa sawit (palm oil) yang banyak dimiliki oleh Indonesia.

Implementasi
Implementasi program B20 memang berpotensi menghemat devisa impor dan merupakan hal positif karena dapat membantu memperbaiki defisit neraca pembayaran Indonesia. Tetapi, di sisi yang lain, kebijakan tersebut juga berpotensi memberikan risiko bisnis bagi pelaku usaha (Pertamina) yang perlu diantisipasi dan disikapi secara hati-hati oleh pemerintah. Jika mengacu pada Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (Biofuel), diketahui bahwa harga biodiesel lebih mahal dibandingkan dengan harga solar konvensional. Jika nilai tukar rupiah diasumsikan 14.500 per dolar AS, maka harga biodiesel menjadi sekitar Rp 1.200 lebih mahal dibandingkan harga solar konvensional untuk setiap liternya. Oleh karena itu perlunya sinergitas para pemangku kepentingan menjadi tantangan dalam implementasi biodiesel. Di sisi akademisi, sampai saat ini sudah banyak melakukan terobosan dengan mencari substitusi bahan baku biodiesel yang bukan hanya dari sawit. Meskipun masih dalam skala laboratorium namun nampaknya hal ini menunjukkan harapan yang positif keberlanjutan biodiesel yang diharapkan tidak hanya B20 namun dapat ditingkatkan hingga B30 dan seterusnya dengan memperhatikan keekonomiannya.

  

Mokh Kandari
Magister Energi Undip




Related

Kesehatan 1813773569070072866

Posting Komentar

emo-but-icon

Advertorial

Iden

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item